Author : Gabriela Priscila

Film atau motion pictures merupakan hasil pengembangan dari teknologi fotografi dan proyektor. (Ardianto, Elvinaro, dkk. 2015 : 143). Film bermula dari akhir abad ke-19. Pada saat itu, film merupakan alat presentasi dan distribusi tradisi hiburan yang berisi cerita, panggung, musik, drama, humor, dan trik teknis. Film juga hampir menjadi media massa karena kekuatannya untuk dapat menjangkau populasi berjumlah besar dengan cepat. Film memiliki peran yang sangat penting dalam memenuhi kebutuhan kehidupan sosial masyarakat. Masyarakat menikmati film dengan alasan keinginan untuk kabur dari realitas yang membosankan, pencarian tokoh idola dan pahlawan, serta keinginan untuk mengisi waktu luang dengan solusi aman dan murah. (McQuail, Denis. 2012 : 35).
Sejarah film memiliki tiga elemen penting. Pertama, film sempat digunakan sebagai alat propaganda karena jangkauan yang luas, sifatnya yang relatable, dampak emosional, dan popularitasnya. Sering ditemukan elemen propaganda ideologis di ranah film hiburan populer. Film dibuat untuk menjalankan fungsi kontrol sosial ataupun mengajarkan nilai-nilai konservatif. Tidak dapat kita pungkiri bahwa industri film didominasi karena dampaknya sangat besar bagi masyarakat, bahkan dapat berkontribusi atas perang terhadap terorisme seperti di Amerika Serikat. Kedua adalah munculnya beberapa sekolah seni film. Pendidikan dalam bidang film mengembangkan teknologi perfilman sekaligus mengembangkan inovasi-inovasi baru dalam dunia perfilman. Ketiga, berkaitan dengan inovasi yang muncul karena pendidikan, maka lahirlah variasi jenis film. (McQuail, Denis. 2012 : 35). Inovasi yang muncul terjadi ketika Georges Meiles pertama kali memasukkan unsur fantasi dan imajinasi ke dalam film. Filmnya "A Trip to The Moon" (1902), menjadi film genre fantasi pertama. Selanjutnya, muncul inovasi film yang baru yaitu oleh Edwin S. Porter. Porter menjadi America's most important filmmaker karena inovasinya dalam pembuatan film. Umumnya, film pada zaman dahulu hanya menggunakan satu lokasi, namun Porter memproduksi film "The Great Train Robbery" (1903) dengan menggunakan 12 lokasi. Porter juga memperkenalkan teknik transisi dalam film. Teknik film Porter membawa perubahan besar. (Biagi, Shirley. 2016 : 139). Sampai saat ini, industri perfilman terus berkembang dan diwarnai dengan berbagai jenis film, yaitu film cerita, film berita, film dokumenter, dan film kartun dengan banyak genre yang berbeda pula. (Ardianto, Elvinaro, dkk. 2015 : 148).
Selain fungsi dan konten film yang mengalami perkembangan, teknologi yang digunakan untuk memproduksi film itu sendiri juga mengalami perubahan. Penemuan teknologi film tidak dilakukan oleh satu orang, tetapi merupakan gabungan dari beberapa teknologi dan memerlukan penyempurnaan-penyempurnaan dalam penggunaannya untuk dapat sampai ke teknologi yang ada saat ini. Penemuan film tidak terlepas dari hasil penemuan Etienne Jules Marey, Thomas Edison, William K. L. Dickson, Auguste, dan Louise Lumiere. Awalnya, Edison membeli hasil foto seorang fotografer bernama Muybridge. Edison lalu mendatangi Marey yang merupakan penemu proyektor. Proyektor ciptaan Marey menunjukkan gambar-gambar secara berkelanjutan dalam bentuk strip film. Namun strip film tersebut bergerak secara tidak teratur sehingga hasilnya kurang baik. Lalu, asisten Edison, William K. L. Dickson, menciptakan kinetoscope yang hampir sama dengan proyektor Marey, namun Dickson menambahkan "Sprocker" untuk menahan film agar bergerak lurus. Di Perancis, Auguste dan Louise Lumiere mengembangkan kamera dan proyektor yang dapat menampilkan film di layar besar. Dari penemuan tersebut barulah berkembang lagi teknologi-teknologi penayangan film layar lebar yang sampai sekarang kita temui. Awalnya film merupakan gambar hitam putih bisu, berkembang sampai menjadi berwarna dengan efek-efek yang ditambahkan untuk memperkaya kualitas film. (Biagi, Shirley. 2016 : 139).
Film sampai saat ini masih terkenal di tayangkan di layar lebar. Hal ini menunjukkan pentingnya bioskop atau teater sebagai industri distribusi film. Bioskop menjembatani antara creator dengan consumer. Selain itu, saat ini TV juga menayangkan film-film dalam programnya dan menjadikan TV sebagai salah satu media distribusi film. Berkembangnya era digital, mempermudah distribusi film lewat internet dengan munculnya aplikasi berlangganan, seperti netflix, iflix, ataupun HOOQ. (Biagi, Shirley. 2016 : 151).
Industri perfilman mendapatkan sebagian besar pendapatannya dari direct sales. Sebuah film dikatakan sukses apabila menghasilkan pendapatan yang lebih daripada pengeluaran dalam pembuatannya. Selain direct sales yang didapat dari penjualan tiket, industri perfilman juga mendapat income dengan membuat film untuk tayangan televisi. Faktor lain yang penting dalam pemasukan industri film adalah penjualan "Ancillary Rights", yaitu seperti penjualan lisensi film kepada usaha-usaha berkaitan. Ancillary Rights misalnya berlaku pada TV berlangganan, stasiun TV, Airline movies, buku, DVD, video games, dan internet downloads. (Biagi, Shirley. 2016 : 149).
Semakin banyak perusahaan industri film, maka semakin ketat juga persaingannya. Terlebih lagi jika kedua industri menggarap jenis film yang sama. Persaingan yang ada mendorong masing-masing perusahaan untuk membuat inovasi yang dapat membuat produknya menonjol dibanding yang lain. Perusahaan juga harus dapat menganalisis keinginan pasar untuk dapat bersaing. Contohnya adalah MCU (Marvel Cinematic Universe) dan DCEU (DC Extended Universe) yang bersaing ketat karena keduanya sama-sama memproduksi film superhero. Masing-masing berusaha mengungguli satu sama lain. Hadirnya globalisasi menimbulkan persaingan yang lebih luas lagi, bukan hanya antara perusahaan dalam negeri, tetapi juga dengan film yang masuk dari luar negeri. Menurut data hasil survei pada tahun 2016, di Indonesia masih lebih tinggi angka penonton film luar dibandingkan film lokal. Hal ini menjadi perhatian karena membuktikan persaingan antara film lokal dengan film luar yang masih belum setara. Namun, banyak juga film Indonesia yang sudah mendapat perhatian dan penghargaan dari luar negeri, contohnya adalah film Pengabdi Setan karya anak bangsa yang menjadi film horor terseram atau film Foxtrot Six yang dianggap sudah memiliki kualitas Hollywood. (Dhani, Arman. 2016).
Fim di era digital ini tetap menjadi salah satu pilihan hiburan utama. Teknologi digital yang ada mempengaruhi produksi, distribusi, dan penayangan dari film. Karena majunya teknologi, saat ini produksi film bisa lakukan dengan mudah dan murah oleh independent filmmakers dan dapat langsung didistribusikan lewat internet. Di masa yang akan datang, perusahaan distribusi film berencana mengirimkan film lewat satelit secara langsung ke bioskop ataupun rumah consumer. Distribusi film yang tayang di bioskop berkembang sehingga film dapat dinikmati melalui layanan TV berlangganan. Teknologi penayangan film yang semakin maju juga menghadirkan inovasi seperti film 3D ataupun 4D. (Biagi, Shirley. 2016 : 156).
Melihat perkembangan film yang sampai sekarang belum berhenti dan terus memunculkan inovasi-inovasi, membuktikan film adalah salah satu media yang eternity. Film akan terus berkembang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan masyarakat. Film tidak akan mati karena film merupakan cerminan kebudayaan yang berkembang dalam suatu zaman. (Biagi, Shirley. 2016 : 137).
Daftar Pustaka
Ardianto, Elvinaro. 2015. Komunikasi Massa : Suatu Pengantar. Edisi Revisi. Bandung : Simbiosa Rekatama Media.
Biagi, Shirley. 2016. Media/Impact : An Introduction to Mass Media. Edisi 12. Australia : Cengage Learning.
Dhani, Arman. 2017. Jumlah Penonton Indonesia Naik, tapi Kenyataan Pahit. Pusbangfilm Kemendikbud. Tirto.id.
McQuail, Denis. 2012. Teori Komunikasi Massa McQuail. Edisi 6. Buku 1. Jakarta : Salemba Humanika.
Comments