top of page

Media Auditif : Radio dan Rekaman Musik

  • Writer: Gb
    Gb
  • Feb 19, 2019
  • 5 min read

Updated: Apr 3, 2019

Author : Gabriela Priscila


Dalam teknologi komunikasi terdapat media yang bersifat auditif, yaitu media yang hanya mengandalkan suara atau indra pendengaran konsumer. Contoh dari media auditif yang akan kita bahas adalah radio dan industri rekaman musik.

Radio adalah media komersial dengan pendapatan utama dari periklanan.(Biagi. 2016 : 130)


Radio berawal dari penemuan telegraf oleh Samuel F. B. Morse pada tahun 1835 dan penemuan telepon oleh Alexander Graham Bell pada tahun 1876. Setelah penemuan-penemuan tersebut, Heinrich Hertz mulai melakukan penelitian gelombang radio pada tahun 1887.


Penyiaran lahir pada tahun 1899 saat Guglielmo Marconi memperkenalkan wireless radio. Lee de Forest (The Father of Radio) kemudian memperkenalkan audion tube untuk menangkap gelombang radio. Selanjutnya, Reginald Aubrey Fessenden mentransmisikan siaran suara dan musik pertama. Pemerintah segera membuat kebijakan penyiaran setelah teknologi ini ditemukan.


Pada tahun 1936, Edwin H. Armstrong memperkenalkan Frequency Modulation (FM), menambah perkembangan radio. Radio di tahun 1930-1940-an menjadi kekuatan dalam bidang budaya dan politik, memberi jutaan orang sumber informasi dan hiburan baru yang murah. Radio semakin berkembang dengan munculnya transistor radio pertama di tahun 1948 yang menjadikan radio portable. Karena radio sudah portable, maka muncul produk radio jam dan radio mobil. Radio jam digunakan sebagai alarm dan diandalkan untuk berita pertama setiap pagi hari. Radio mobil memungkinkan radio untuk bertahan dengan adanya Drive-Time audience.(Biagi. 2016 : 112-121)


Teknologi terus bergerak maju, mendukung kemajuan radio. Pada tahun 2001, Sirius Satellite Radio dan XM Radio menawarkan Digital Satellite Radio Service. Pada tahun 2005, Tim Westergreen menjadi pelopor radio internet dengan meluncurkan Pandora yang menawarkan sistem berlangganan untuk musik online. Radio berbasis internet menandai perubahan era dalam penyiaran. Siaran digital menghilangkan siaran statis dan memberikan pilihan program tak terbatas bagi pendengar. Sekarang, stasiun radio digital mengirimkan sinyal digital dengan internet sehingga informasi dapat sampai lebih cepat. HD radio mentransmisikan audio dalam bentuk data komputer, meningkatkan kualitas suara yang dihasilkan.(Biagi. 2016 : 127-128)


Radio dalam penyiarannya menggunakan spektrum frekuensi radio. Spektrum frekuensi radio merupakan sumber daya alam yang terbatas dan strategis, serta mempunyai nilai ekonomis tinggi. Dalam penggunaan frekuensi, radio harus memperhatikan kaidah hukum nasional dan internasional mengingat frekuensi radio dapat merambat ke segala arah tanpa mengenal batas wilayah negara. (Mariyati. 2014)


Radio menggunakan frekuensi AM dan FM. Frekuensi AM seringkali mengalami ambiguitas deteksi terkait dengan gangguan penerimaan sinyal. Frekuensi FM meningkatkan akurasi jangkauan dengan bandwidth yang narrow.(Choi. 2017). Saat ini, radio sudah terbagi antara FM dan AM. Beberapa stasiun mengkombinasikan AM dan FM (a combo), yaitu satu perusahaan memiliki stasiun AM dan FM di pasar yang sama.(Biagi. 2016 : 122). Contoh stasiun radio yang memiliki AM dan FM di Indonesia adalah RRI (Radio Republik Indonesia), yaitu 999 kHz AM atau 88.8 MHz FM.(Petaluma. 2011 : 22). Jaringan radio siaran analog menggunakan jaringan telepon, sedangkan radio digital sekarang memakai jaringan maya (cyber).(Ardianto. 2015 : 124). Stasiun radio sekarang mengirimkan programming lewat internet sehingga dapat di-streaming secara online.(Biagi. 2016 : 128)


Industri radio bergerak dalam siaran musik dan suara, lalu muncul stasiun radio komersial. Pada masa perang dunia, fungsi radio bergeser menjadi fungsi militer. Kemudian, barulah radio kembali kepada fungsinya, yaitu sumber informasi dan hiburan dengan konten komedi, musik, serial, olahraga, drama, dan berita. (Biagi. 2016 : 112-117)


Radio siaran mendapat julukan kekuatan kelima (The Fifth Estate). Hal ini disebabkan karena radio siaran juga dapat melakukan fungsi kontrol sosial di samping fungsi informasi, menghibur, mendidik, dan persuasi. Kekuatan radio siaran dalam mempengaruhi khalayak sudah dibuktikan dari masa ke masa.(Ardianto. 2015 : 128). Radio sempat terancam dengan kehadiran TV pada tahun 1940-an. Terdapat lima perkembangan radio yang terjadi di tahun 1940-an, 1950-an, dan 1960-an yang menjamin keberlangsungan radio. Kelima perkembangan tersebut ialah FM radio frequency was accepted by the public, disc jockeys hosted music shows, radio format streamlined broadcast, clocks and car radios, the Payola scandal focused on broadcast ethics.(Biagi. 2016 : 119-120). Radio dapat bertahan meskipun ada kehadiran teknologi televisi karena diuntungkan beberapa ciri penting. Radio memiliki lebih banyak saluran sehingga memiliki akses yang lebih banyak dan beragam. Produksi radio lebih murah dan fleksibel, radio juga murah serta fleksibel bagi khalayaknya. Tidak ada batasan dimana radio dapat didengarkan atau batasan waktu karena mendengarkan dapat dilakukan bersamaan dengan aktivitas lainnya.(McQuail. 2012 : 39-40)


Selain radio, industri auditif lainnya adalah industri rekaman musik.

Industri ini berawal dari penemuan Phonograph oleh Thomas Edison pada tahun 1877. Selanjutnya, Ampex mengembangkan teknologi tape recorder dan Minnesota Mining and Manufacturing menyempurnakan plastic recording tape. Bing Crosby merupakan salah satu dari penyanyi pertama yang menggunakan tape rekaman.


Pada tahun 1950 barulah muncul teknologi stereophonic. Pada tahun 1950-an musik rock'n'roll menjadi konsep musik yang populer. Kualitas suara rekaman yang semakin membaik mendukung kesuksesan bintang-bintang besar, seperti Marvin Gaye. Munculnya radio transistor dan Walkman memajukan industri musik. Lalu muncul CD-RW, compact disk yang dapat merekam dan memainkan musik. CD-RW kemudian digunakan untuk dijual sebagai single atau album penyanyi.


Penjualan CD saja tidak cukup untuk mendukung industri musik. Penjualan tiket konser juga menjadi hal yang penting sebagai sumber pendapatan. Industri musik membangun kerjasama dengan industri radio. Radio bergantung pada musik populer agar dapat bertahan di pasar, musik membutuhkan media radio sebagai media promosi. Industri rekaman mendapat pemasukan dari penjualan, lisensi musik, music videos, dan unduhan musik.


Tiga masalah yang harus dihadapi industri rekaman saat ini adalah content labelling, overseas piracy, dan artist's copyright protection. Banyak perusahaan atau website yang dituntut karena pelanggaran copyright. Tetapi, banyak orang masih tetap menggunakan website-website serupa, meskipun lagu yang mereka unduh memiliki hak cipta.


Pada tahun 2010, RIAA memperkirakan bahwa online piracy yang terjadi sudah mencapai 90%. Musik berlisensi diatur oleh hukum, sehingga industri rekaman mengejar semua solusi hukum yang tersedia untuk membatasi unduhan musik ilegal. Industri rekaman mendukung aplikasi pengunduhan musik yang legal, seperti iTunes, atau aplikasi berlangganan, seperti Spotify dan JOOX.(Biagi. 2016 : 98-104)


Digitalisasi memunculkan demasifikasi yaitu sebuah perubahan dari penggunaan secara massal menjadi penggunaan Individual. (Yamin. 2018). Hal ini dapat kita lihat dalam industri musik dimana setiap orang dapat mendengarkan musik masing-masing dari gadget melalui aplikasi pengunduhan musik atau aplikasi berlangganan musik. Perluasan teknologi digital menandakan era baru bagi pecinta musik, membuat musik berkualitas dapat ditemukan dengan mudah melalui internet. Melalui internet, artis musik dapat menjangkau audiens yang lebih luas dengan unduhan musik dan layanan berlangganan (subscription). Penikmat musik juga dapat dengan mudah mengikuti perkembangan tren musik yang ada baik mingguan, bulanan, maupun tahunan.(Biagi. 2016 : 106)




Daftar Pustaka

  • Ardianto, Elvinaro. 2015. Komunikasi Massa : Suatu Pengantar. Edisi Revisi. Bandung : Simbiosa Rekatama Media.

  • Biagi, Shirley. 2017. Media/Impact : An Introduction to Mass Media. Edisi 12. Australia : Cengage Learning.

  • Choi, Mun Gak. 2017. High-Accuracy AM-FM Radar with an Active Reflector. Journal of Sensors. Vol.2017, p1-8, 8p.

  • Mariyati, Tatiek. 2014. Studi Kebijakan Pemanfaatan Frekuensi dalam Keterbatasan Alokasi Frekuensi Radio Komunitas - Study of Frequency Utilization Policy in the Limitedness of Frequency Allocation for Community Radio. Buletin Pos dan Telekomunikasi. Vol.12.

  • McQuail, Denis. 2012. Teori Komunikasi Massa McQuail. Edisi 6. Buku 1. Jakarta : Salemba Humanika.

  • Petaluma, Calif. 2011. Indonesia Communications. Edisi 2. World Trade Press.

  • Yamin, Muhammad. 2018. Gaya Hidup Digital dan Perubahan Sosial. Universitas Jenderal Soedirman.

Comments


About  
 

I'm a student, currently studying in Bunda Mulia University, Alam Sutera, Tangerang. I made this blog to share my writings and passion for journalism.

© 2023 by Ad Men. Proudly created with Wix.com

Contact
 

I’m a great place for you to tell a story and feel free to give me your opinion.

Thank You!
 

Thank You for coming to this blog!

Thank You for sending me a message! I will get back to you soon! -G

bottom of page