Masa Depan Majalah dan Buku
- Gb
- Feb 12, 2019
- 4 min read
Updated: Apr 3, 2019
Author : Gabriela Priscila

Kita pasti sudah tidak asing lagi dengan media cetak majalah dan buku. Media-media tersebut memiliki pasar yang luas dari semua kategori usia.
Media majalah yang kita kenal, berkembang pertama kali di Eropa dan Amerika. Majalah pertama di Eropa lahir di London, Inggris dengan nama Review yang dibuat oleh Daniel Depoe pada tahun 1704. Setelah itu, muncul majalah The Tatler yang dibuat oleh Richard Steele pada tahun 1790. Majalah-majalah awal Inggris berisi berita, artikel, kebijakan nasional (politik), dan hiburan (teater). Di Amerika, Benjamin Franklin menjadi pelopor majalah dengan menerbitkan General Magazine dan Historical Chronicle pada tahun 1740. Tahun 1820-an sampai 1840-an dinyatakan sebagai The Age of Magazine dengan munculnya Saturday Evening Post pada tahun 1821. Lalu pada tahun 1893 muncul majalah investigative journalism bernama McClure's Magazine. Tahun 1923, Henry Luce menerbitkan majalah berita pertama bernama Time. Majalah terus berkembang di Amerika melalui The Era of Magazine Industry Consolidation (1985) dan majalah edisi internet pertama oleh Newsweek (1998).(Ardianto. 2015 : 116)(Biagi. 2017 : 70)
Awalnya, majalah hanya difungsikan untuk keperluan domestik dan budaya kalangan atas. Kemudian, majalah berkembang ke pasar massa yang memiliki nilai komersial tinggi dan mencakup jumlah besar. Pada masa-masa penting dalam masyarakat, majalah memiliki peran sosial, politik, dan budaya.(McQuail. 2012 : 34-35)
Pada tahun 1950, majalah mengalami krisis yang mengancam keberlangsungannya karena ditemukannya teknologi TV. TV menawarkan jenis fitur umum yang sama dengan majalah. Majalah dengan jenis konten umum akhirnya kalah saing dengan TV. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, majalah membagi/mengkategorikan pasar lebih spesifik (segmentasi). Majalah menentukan khalayak tertentu dan memberikan informasi sesuai dengan ketertarikan khalayak yang dituju. Dengan strategi ini, majalah dapat menempatkan iklan dengan lebih tepat juga.
Agar dapat menguasai pasar, banyak terjadi konsolidasi perusahaan, yaitu majalah-majalah dikumpulkan bersama di bawah perusahaan besar. Satu Publishing Company dapat mencetak banyak jenis majalah sehingga satu perusahaan dapat menyediakan informasi untuk spesialisasi yang beragam. (Biagi. 2017 : 70, 75-76)
Semua majalah rentan terhadap perubahan ekonomi dan teknologi. Perkembangan teknologi dan perluasan program TV menjadi tantangan bagi media majalah.
Meskipun audiens majalah berjumlah kecil, majalah dinilai memiliki khalayak konsumen yang baik. Audiens majalah tertarik pada produk tertentu yang diiklankan di majalah yang sesuai dengan minat spesifik mereka. Namun, sekarang khalayak sudah dapat mencari informasi yang diinginkan dengan mudah di internet, menjadikan tantangan yang lebih besar bagi media majalah.
Inovasi majalah online menjadi jalan untuk memperluas jumlah pembaca dan memberikan akses kepada pengiklan untuk meraih khalayak dunia maya. Majalah bertahan hidup dengan beradaptasi. Untuk mempertahankan khalayaknya dan pendapatannya, majalah berintegrasi dengan media massa untuk memperluas kehadirannya di internet, membuat kemitraan, dan menarik audiens baru. (Biagi. 2017 : 81, 83-84)
Selain majalah, media cetak selanjutnya yang akan menjadi pembahasan kita adalah buku. Buku dianggap sebagai media peradaban manusia dari zaman ke zaman.
Dahulu, buku adalah karya penulis terkenal yang menulis fiksi dan non-fiksi yang diperbanyak dan disebarkan untuk dibaca dan diceritakan kembali. Pada abad pertengahan, buku merupakan media penyimpan kata-kata bijak dengan teks religius dan filsafat berisi informasi ilmiah dan praktis.
Buku modern memiliki kegunaan yang sama. Elemen penting yang terus berlanjut antara tulisan dan percetakan adalah perpustakaan. Perpustakaan mencerminkan dan mengkonfirmasi buku sebagai catatan atau hasil karya permanen. Buku digunakan sebagai alat untuk menyampaikan informasi dan semenjak abad ke-19 dinilai sebagai alat penting untuk pencerahan masyarakat.(McQuail. 2012 : 28-29)
Buku bukan hanya sebatas media ilmu pengetahuan. Buku memiliki aspek ekonomi. Penerbit selalu terpecah antara tujuan memberikan informasi intelektual dan kebutuhan untuk menghasilkan uang.(Biagi. 2017 : 31)
Buku merupakan sebuah bisnis perusahaan ekonomi dengan pasar konsumen produk 'satuan' (one-off) dimana produk dijual secara langsung kepada konsumen.(McQuail. 2012 : 245). Industri penerbitan melakukan penjualan sama seperti komoditas lainnya. Penerbit yang tidak mendapat keuntungan tidak akan bisa melanjutkan usahanya. Penerbit berusaha meningkatkan pendapatan dengan menjual hak kepada media lain seperti industri film dan penerbit negara lain (subsidiary and international rights), memanfaatkan popularitas penulis untuk menarik pembaca yang loyal (blockbusters), dan menggunakan internet sebagai media pemasaran (internet marketing).(Biagi. 2016 : 31, 38, 40)
Seiring dengan berkembangnya teknologi, muncul inovasi berupa e-book. E-book dapat di-download dan dibaca di layar gadget. E-book merupakan salah satu cara memperluas pasar. (Biagi. 2017 : 28). Perilaku informasi berevolusi seiring dengan berkembangnya berbagai perangkat dan platform untuk membaca e-book yang memberikan pengalaman berbeda. Bahkan sekarang ada buku berbentuk audio yang dibacakan dan tinggal didengarkan oleh pengguna.(Tracy. 2018). E-book memungkinkan kita membaca buku dengan mudah. E-book dapat diakses melalui internet dengan sistem penyimpanan metadata yang mampu membantu kita untuk menemukan dokumen (buku dan jurnal) atau konten yang kita inginkan.(Browne. 2018). Hadirnya buku elektronik menjadi tantangan bagi penerbit. Penerbit besar terus berkonsolidasi dan penerbit kecil terus berkurang jumlahnya.(Biagi. 2017 : 41)
Software Developer Adobe, Russel Brady, mengungkapkan, "We think that in the long term, e-book technology has a great future. Market acceptance has not taken off as quickly as predicted, but we are certainly continuing to invest in this area." Mendukung pendapat Brady, banyak penerbit yang percaya bahwa masa depan industri buku adalah buku elektronik.(Biagi. 2017 : 38)
Namun, menurut survei Claudia McVicker, masa depan kepunahan buku printed terlalu dilebih-lebihkan. Faktanya banyak masyarakat technology native yang masih lebih memilih buku dibandingkan e-book dengan alasan karena membaca buku memberikan pengalaman tertentu, lebih menggugah pembaca, dan membaca buku biasa lebih terhindar dari gangguan dibandingkan jika membaca buku di perangkat elektronik. Beberapa menyatakan bahwa buku printed masih menjadi pilihan utama untuk mencari informasi ilmiah.(McVicker. 2017)
Teknologi media yang terus berkembang memang seakan menghapuskan media-media konvensional yang ada. Tetapi, media baru yang ada saat ini adalah bentuk adaptasi media lama. Media lama bukan berarti hilang, melainkan bertransformasi mengikuti perkembangan zaman.
Daftar Pustaka
Ardianto, Elvinaro. 2015. Komunikasi Massa : Suatu Pengantar. Edisi Revisi. Bandung : Simbiosa Rekatama Media.
Biagi, Shirley. 2017. Media/Impact : An Introduction to Mass Media. Edisi 12. Australia : Cengage Learning.
Browne, Glenda. 2018. The Chicago Manual of Style on Indexes in Electronic Publication and The Use of Metadata. Information Science & Technology.
McQuail, Denis. 2012. Teori Komunikasi Massa McQuail. Edisi 6. Buku 1. Jakarta : Salemba Humanika.
McVicker, Claudia. 2017. Last Child in The Library? : A Survey of Use of E-books Versus Traditional Books. Information Science & Technology.
Tracy, Daniel G. 2018. Format Shift : Information Behavior and User Experience in The Academic E-book Environment. Education Research Complete. Vol.58, Issue 1, p40-51, 12p.
Kommentarer